ASIA STOCKS TRACK US LOWER AMID EARNINGS FEARS

Asian stock markets fell sharply Wednesday, with Hong Kong’s index tumbling 4 percent, as fears over company profits amid the global recession prompted investors to lock in gains from a recent rally.

Investors unloaded shares across most industries, from banks to energy firms and airlines, after a second day of weakness on Wall Street that stirred talk of an end to the huge monthlong advance in global equities since March.

Markets were on edge as U.S. firms began releasing their first-quarter results, with giant aluminum maker Alcoa reporting a wider-than-expected loss as prices for the lightweight metal plunged amid softening demand. It was a bleak start to the earnings season — and added to anxiety that the recession’s toll on major companies could be worse than many already fear.

There were also renewed worries about the health of banks. Markets were focused on reports the International Monetary Fund may sharply increase its estimate of toxic asset losses at financial institutions around the world. A relatively slow start to U.S. measures to soak up certain securities and spur more lending also weighed on investors.

Most investors have been girding for a downward move.

Overnight on Wall Street, the Dow dropped 186.29, or 2.3 percent, to 7,789.56. The blue chip index had been down nearly 214 points at its low of the day. The Standard & Poor’s 500 index fell 19.93, or 2.4 percent, to 815.55.

U.S. markets were headed for another round of selling after Wall Street futures fell. Dow futures lost 91 points, or 1.2 percent, to 7,671 and S&P500 futures slipped 9.1, or 1.1 percent, to 804.90.

Oil prices dropped in Asia as crude markets followed equities down on waning optimism the U.S. economy will soon recover from a severe recession. Benchmark crude for May delivery fell 89 cents to $48.26. The contract fell $1.90 on Tuesday to settle at $49.15. (Jeremiah Marquez, AP Business Writer)

BEN BERNANKE PREDICTED THAT THE US RECESSION WILL END THIS YEAR

ombenThe chairman of the Federal Reserve said last night that he expects economic growth to resume in 2010. But he warned that the recovery could be wrecked if there was insufficient political will to solve the financial crisis. “We’ll see the recession coming to an end probably this year,” said Bernanke in an interview with US TV network CBS. “The biggest risk is that we don’t have the political will … the commitment to solve this problem, and that we let it just continue,” he added.

The US government will soon unveil details of a plan to mop up toxic financial assets, to encourage the sector to lend again. There is concern that this plan will reward failing banks and risk-taking firms like hedge funds, but Bernanke insisted it was essential to put the banks back on a healthier footing. “I care about Wall Street for one reason and one reason only – because what happens on Wall Street matters to Main Street,” Bernanke said. The comments follow upbeat forecasts from some of the US’s largest banks. Citigroup and Bank of America Merrill Lynch both indicated last week that they were returning to profitability – a sign that they would not need more funds from the government.

Bernanke defended the bailout of the banking sector last year, saying it had “averted” the risk of depression, although he also acknowledged public disquiet that taxpayers’ money was now supporting companies such as insurance group AIG. “It’s absolutely unfair that taxpayer dollars are going to prop up a company that made these terrible bets,” he said, adding that the financial system would have suffered further if these companies had not been rescued. Anger over the rescue of AIG intensified over the weekend when it emerged that its London staff will share bonuses of $450m, despite crippling the company with huge losses on derivative contracts.

Bernanke’s optimism that the economic recovery will begin next year is not shared for the UK by accountancy firm BDO Stoy Hayward. It warned today that around 36,000 companies will be claimed by the recession in the UK this year. It said the picture will be even worse in 2010 when up to 39,000 companies are expected to fail. (guardian.co.uk)

BDMN BAKAL RIGHTS ISSUE DI HARGA RP1,200

PT Bank Danamon (BDMN) telah mengeluarkan prospektus mengani rencana rights issue IV. Perseroan menerbitkan HEMTD untuk membeli saham seri B sejumlah 3.4 miliar saham dengan nilai nominal Rp500. Rasionya setiap 100 pemegang saham lama berhak atas 68 HEMTD untuk membeli 68 saham seri B dengan harga penawaran Rp1,200/saham. Harga ini discount 52% dari harga  penutupan kemarin.

Dengan harga Rp1,200/saham, maka Perseroan akan meraup dana sekitar Rp4.08 triliun. Bertindak sebagai pembeli siaga adalah Citigrop Global market Singapore dan Morgan Stanley Asia. Dengan rights issue tersebut, BDMN akan meningkatkan CAR menjadi 19.2%.

Asia Financial  sebagai  pemegang saham terbesar BDMN merupakan pembeli siaga rights issue dan siap menyerap seluruh penerbitan saham baru jika diperlukan. Perseroan akan menggelar RUPSLB pada 23 Maret 2009. Tanggal efektif rights issue diperkirakan jatuh pada 20 Maret. Cum right issue tanggal 31-Mar  dengan ratio 100 : 68 dengan harga pelaksanaan Rp 1,200, di pasar regular dan negosiasi. BDMN diperdagangkan pada valuasi P/BV09 sebesar 1.0x vs industri 1.5x.

Dari oustanding share BDMN per September 2008 sebanyak 5,023 miliar lembar saham maka BDMN akan menerbitkan 3,43 miliar lembar saham baru dengan dana yang akan terhimpun Rp 4.1 triliun. Mengingat jauhnya perbandingan harga penutupan dengan harga saham right issue, perhitungan kami saham BDMN dapat bergerak di level Rp 1975. (sumber Daily Report Samuel, Ciptadana & BNI Securities)

RI UTANG LAGI KE PASAR GLOBAL 4 MILIAR DOLLAR AS

Tak terelakkan lagi, pemerintah harus berkubang makin dalam di kolam utang. Yang terbaru, pemerintah menjadwalkan penerbitan surat utang jangka menengah di pasar global senilai 4 miliar dollar AS selama tahun ini. Apa boleh buat, defisit anggaran tahun ini akan mencapai Rp 132 triliun, atau 2,5 persen dari PDB. Untuk menambalnya, pemerintah juga sudah menggali utang dari sana-sini, antara lain dari pinjaman siaga senilai 3,5 miliar dollar AS.

Penerbitan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN) senilai 4 miliar dollar AS itu sebetulnya tak menguntungkan karena situasi pasar finansial global masih kacau-balau. Tiga hari lalu, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta juga mengatakan, penerbitan obligasi di pasar global bukanlah pilihan menarik.

Untungnya, lembaga pemeringkat Standard & Poors maupun Fitch kemarin sama-sama mempertahankan rating Indonesia. Fitch menilai, Indonesia memiliki kekuatan fundamental untuk pembiayaan publik. Adapun Standard & Poors mempertahankan peringkat BB- karena Pemerintah RI berhati-hati menghadapi risiko eksternal.

Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto juga berusaha meyakinkan target penerbitan MTN sepenuhnya bergantung pada kondisi pasar. “Kalau permintaan kecil, penerbitannya juga kecil,” katanya seraya menambahkan bahwa 4 miliar dollar AS itu hanya target indikatif.

Pemerintah memang masih berpeluang menghindari MTN untuk menambal defisit. Perhitungannya, masih ada Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) 2008 sebesar Rp 51 triliun. Lalu pinjaman siaga Rp 38 triliun benar-benar cair. Maka, defisit APBN 2009 Rp 132 triliun masih tersisa Rp 43 triliun. Ini masih bisa ditutup dengan instrumen utang lain dengan target pasar dalam negeri. Misalnya, surat utang negara berbasis syariah (sukuk) ritel. Lalu, masih ada peluang menerbitkan Surat Perbendaharaan Negara dengan pembeli Bank Indonesia.

Karenanya, Rahmat berani menyatakan penerbitan MTN global bukan prioritas. “Semoga dari pasar dalam negeri bisa mencukupi,” katanya.

 

Sumber : kompas.com/Tmy

PENJUALAN SUKUK RITEL DIBUKA HARI INI

Pemerintah secara resmi membuka masa penawaran Sukuk Ritel seri SR-001 Jumat (30/01) ini. Rahmat Waluyanto, Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan (Depkeu) mengemukakan, setiap individu dapat melakukan pembelian surat utang syariah tersebut melalui 13 agen penjual yang telah ditunjuk pemerintah. “Minimum pemesanan pembelian adalah Rp5 juta, dengan kelipatan tersebut juga tanpa ada batasan maksimum pembelian, kita tujukan untuk setiap individu warga negara Indonesia,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Depkeu di Jakarta.

Ia menjelaskan, pemesanan pembelian dapat dilakukan pada setiap hari kerja mulai 30 Januari-20 Februari 2009. “Pemesanan pembelian dapat dilakukan melalui agen penjual yang telah kami tunjuk, sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan,” ujarnya. Untuk masa penjatahan ditetapkan pada 23 Februari 2009, dan penyelesaian transaksi (settlement), ditentukan pada 25 Januari 2009. “Pada 26 Februari, sukuk ritel ini akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia,” tambahnya.

Sementara itu, Rosinu, Direktur Trimegah Securities mengatakan, potensi pasar dari penjualan sukuk ritel negara bisa mencapai Rp4-5 triliun. “Saya mewakili seluruh agen penjual, optimis bisa mencapai penjualan sukuk ritel ini antara Rp4-5 triliun, kita lihat potensi pasarnya seperti itu,” ujarnya. Sedangkan, Direktur Pembiayaan Syariah Depkeu, Dahlan Siamat mengemukakan, pemerintah tetap fleksibel menetapkan target tersebut dan mempunyai angka sendiri yang tidak bisa diumumkan. “Kita punya target sendiri, tapi angkanya tidak bisa kami disebutkan,” kata Dahlan.

Sebanyak 13 agen yang ditunjuk untuk melakukan penjualan sukuk tersebut adalah Bank Mandiri, Danareksa Sekuritas, Bank Syariah Mandiri, BNI securities, CIMB-GK Securities Indonesia, Citibank N.A, HSBC, Reliance Sekuritas, Trimegah Securities, Andalan Artha Advisindo Sekuritas, Anugerah Securindo Indah, Bahana Securities, dan Bank Internasional Indonesia (BII). (Irawan-Stockwatch)

MODAL OBAMA BENAHI EKONOMI AMERIKA US $819 MILIAR

Partai Demokratik yang mendominasi pemerintahan Amerika menyepakati paket penyelamatan terbesar dalam sejarah senilai USD819 miliar. Dengan modal tersebut, Presiden Amerika Barack Obama akan dituntut untuk memulihkan ekonominya yang karut-marut.

Sebenarnya dana tersebut di bawah estimasi yang diajukan kubu Obama senilai USD825. Namun, berdasarkan perundingan para eksekutif Amerika di Gedung Putih, Rabu (28/1/2009) waktu setempat, membuahkan hasil suara 224-118. Dana sebesar itu akan digunakan antara lain untuk menstimulisasi fiskal antara lain dengan memberikan keringanan pajak.

“Program pemulihan ini akan menciptakan 3 juta lapangan pekerjaan baru hingga beberapa tahun mendatang,” ujar Presiden, dalam keterangan tertulisnya yang dipublikasikan usai perundingan, seperti dikutip Associated Press (AP), Kamis (29/1/2009). “Kita harus bekerja dengan cepat, waktu kita tidak banyak,” imbuhnya.

Hasil ini akan digulirkan senator untuk dimatangkan kembali pada pekan depan. Para pemimpin Partai Demokratik berharap program ini dapat dilegalisasi pada pertengahan Februari.

Sementara itu, Ketua DPR AS Nancy Pelosi (Demokrat, California) menyatakan program ini akan menjadi babak baru dalam sejarah Amerika. “Kapal Amerika sulit untuk bisa kembali,” ucapnya.

Namun, dari kubu oposisi, pemimpin Partai Republik dari Ohio John Boehner menanggapi dingin paket penyelamatan ini. “Langkah ini tidak akan menciptakan banyak lapangan pekerjaan, tapi hanya akan menimbulkan banyak program,” pungkas Boehner. (Okezone)

 

BROKER, TAK SEKADAR PENERUS ORDER

Artikel ini Disajikan oleh Tim BEIKeberhasilan investasi di Pasar Modal ditentukan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang ternyata ikut menentukan keberhasilan investasi di Pasar Modal adalah peran perusahaan efek selaku perantara. Bagaimana hubungan yang terbentuk antara perusahaan broker dengan investor atau nasabahnya, bagaimana intensitas komunikasi antara keduanya, seberapa besar perusahaan broker mengenal dan memahami karakter nasabahnya dan yang terpenting seberapa jauh bentuk pelayanan yang diberikan perusahaan broker terhadap nasabahnya. Apakah pelayanan yang diberikan sekadar sebagai broker dealer dan hanya menyampaikan order transaksi semata, ataukah pelayanan yang diberikan menyangkut banyak hal termasuk hasil riset, rekomendasi dan bahkan komunikasi untuk membina hubungan emosional?

Pengalaman seorang investor patut disimak. Santo, sebut saja begitu, ia mulai mengenal saham sejak 1996, atau 12 tahun silam. Selain berinvestasi saham, ia juga bekerja sebagai karyawan. Setiap rupiah yang dihasilkan dari kerja sebagai karyawan disisihkan untuk membeli saham. Di waktu luang ia juga belajar tentang strategi investasi di Pasar Modal. Ia belajar tentang analisa laporan keuangan, analisa fundamental dan juga analisa tehnikal. Pendek kata, berbagai hal yang bisa menambah pengetahuan tentang investasi di Pasar Modal dilakukannya.

Sampai 10 tahun dilewatinya. Toh, tanda-tanda keberhasilan belum juga tampak. Ia pun telah berpindah-pindah perusahaan broker, hingga pada 2007 ia merasa mendapatkan perusahaan broker yang pas. Dinilai pas, karena perusahaan broker tersebut tidak berprilaku seperti metromini yang ”lebih mementingkan mengejar setoran daripada keselamatan penumpang”. Si perusahaan broker memberikan bimbingan, nasehat, pendapat dan juga riset. Kalaupun ada fasilitas margin, maka fasilitas itu diberikan secara hati-hati dan terukur. Jika nasabah ada masalah selalu dibantu untuk dicarikan jalan keluarnya. Dan ternyata dengan perlakukan broker seperti itu, investasi Santo pada 2007 tumbuh luar biasa. Kendati pada 2008 lalu terjadi penurunan indeks yang tajam sebagai dampak krisis keuangan global, Santo mengaku masih selamat berkat nasehat investasi yang diberikan oleh perusahaan broker tempat ia bertransaksi.

Ini baru satu contoh. Mungkin masih ada banyak contoh lain yang menunjukkan betapa peran perusahaan broker berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan investasi seorang investor.

Begitulah, hubungan antara investor dengan perusahaan broker memang sudah semestinya berlangsung harmonis, saling isi dan saling membutuhkan. Perusahaan broker membutuhkan investor agar bisa memperoleh pendapatan dari fee transaksi, sebaliknya investor membutuhkan perusahaan broker lebih dari sekedar penerus order. Apalagi jika diingat, bisnis di Pasar Modal pada dasarnya bisnis yang mengandalkan kepercayaan. Investor dan broker harus terbentuk sikap saling percaya dan menjaga kepercayaan.

Di saat pasar sedang lesu (bearish) misalnya, perusahaan broker selayaknya memberikan motivasi, penjelasan dan nasehat investasi yang dibutuhkan investor. Dan di saat pasar sedang bullish,? broker juga arus bisa mengendalikan dan memberikan nasehat investasi agar investor tidak terlalu bernafsu belanja saham tanpa perhitungan. Dan jika ada peluang meraih untung di pasar, sudah selayaknya perusahaan broker memprioritaskan kepentingan nasabah. Dengan begitu, investor akan betah dan loyal yang pada gilirannya akan berdampak positif bagi peningkatan pendapatan broker itu sendiri. (Artikel ini Disajikan oleh Tim BEI-Okezone)

MORGAN STANLEY: 2009, PASAR SAHAM RI BERAT!

Presiden Direktur Morgan Stanley Indonesia mengungkapkan pasar saham di Indonesia akan berat di tahun ini. Pasalnya, gejolak pasar global akan terus berlangsung sampai hingga akhir 2009.

Hal ini disebabkan karena adanya penarikan dana besar-besaran yang berasal dari Amerika dari negara Eropa serta negara berkembang.

“Pricing market di emerging market, akan terus berlangsung. Tren ini, menyebabkan harga saham di pasar akan anjlok,” ujar Presiden Direktur Morgan Stanley Indonesia Inghie Kwik, saat ditemui wartawan, di Galeri BEI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (27/1/2009).

Dia pun memprediksikan, aksi korporasi untuk melakukan pencatatan saham perdana di lantai bursa (initial public offering/IPO) sulit dilakukan selama tahun ini. Penyebabnya, krisis likuiditas dana yang berasal Asia. Namun, tambahnya, peluang pasar untuk rebound masih ada. Diprediksikan, hal itu akan terjadi di penghujung 2009 sampai 2010. (Okezone)

BAPEPAM: JUMLAH DIREKSI BEI 5-6 ORANG

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) memastikan pekan ini sudah bisa diputuskan usulan jumlah direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan menjabat pada periode mendatang.

“Pengkajian ini, sedang kita bahas dan tentunya kita merasa perlu mendapatkan masukan dari Bursa Efek Indonesia, untuk nantinya bisa dijalankan secara teknis,” ujar Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany, saat ditemui wartawan, di Galeri BEI, Jakarta, Selasa (27/1/2009).

Sedangkan, di tempat yang sama, Direktur BEI Erry Firmansyah mengatakan, idealnya Direksi BEI antara lima hingga enam orang, karena hal tersebut sudah dirasa cukup.

“Kita usulkan, Direksi BEI 5-6 orang. Tapi, yang pastinya kita masih menunggu peraturan dari Bapepam-LK, berapa jumlah Direksi yang layak ditempatkan di BEI,” ungkapnya.

Sementara itu, dia juga menyampaikan saat ini pihak BEI sedang membicarakan dengan Direktorat Jenderal (Dirjen) Pajak dan juga Bapepam-LK terkait dengan aturan pajak bagi emiten. “Kita sedang mengaji dengan Dirjen Pajak dan Bapepam tentang itu,” tutur Fuad. (Okezone)

 

 

 

BILL GATES: EKONOMI AS BARU PULIH 10 TAHUN LAGI

Pendiri Microsoft yang juga jutawan asal Amerika Serikat, Bill Gates, memprediksi bahwa Amerika membutuhkan waktu 10 tahun untuk memperbaiki perekonomian dari terpaan badai krisis yang sedang terjadi.

“Pasar uang dan kondisi perekonomian yang berkembang sepanjang tahun ini tidak pernah terjadi sebelumnya,” demikian pernyataan Gates dalam tulisannya di surat tahunan pertama, seperti dikutip AFP, Selasa (27/1/2009).

“Saya berharap saat saya menulis pandangan saya dalam laporan yang sama pada dua tahun mendatang, saya bisa memandang bahwa ini merupakan refleksi jangka pendek dan sudah terlewati,” tambahnya lagi.

Menurutnya, faktor inovasi teknologi dan sektor ilmiah dianggap bisa sebagai penggerak utama dalam proses pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam. “Berbagai inovasi yang tengah diciptakan bisa membawa kemajuan nyata dalam memecahkan masalah besar, dan akan membantu memperbaiki dan menyegarkan kembali ekonomi dunia,” kata Gates

Milioner ini merasa terilhami untuk menulis surat tahunan bagi Yayasan miliknya dan istrinya, Bill and Melinda Fondation, yang berdiri pada 1994.

“Dalam waktu dekat, Warren Buffet akan membuat keajaiban,” tuturnya, sambil menambahkan orang kaya papan atas di Amerika ini akan memberikan hibah bagi yayasannya.

Yayasan Gates berperan dalam memberantas kematian masa kecil, memperbaiki pertanian global dan pendidikan di Amerika Serikat, dan perkelahian polio, AIDS dan malaria.

“Saya cukup mujur mengumpulkan kekayaan yang masuk ke yayasan karena saya mendapat pendidikan luar biasa dan dilahirkan di Amerika Serikat, di mana inovasi dan pengambilan risiko dihargai,” kata Gates pada bagian suratnya tentang pendidikan di Amerika Serikat. (Okezone)

 

KRISIS KEUANGAN GLOBAL ANCAM 50 JUTA PEKERJA

PERTUMBUHAN EKONOMI DUNIA HANYA 2,5 PERSEN

Para pemimpin negara dan pengusaha yang memulai Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Rabu (28/1), dituntut mendapatkan solusi segera dan tepat guna mengakhiri krisis ekonomi global. Jika tidak, pemutusan hubungan kerja lebih dari 50 juta orang akan terjadi tahun ini.

Tuntutan mencari solusi segera dan tepat ini karena ada 2.500 pemimpin negara dan pengusaha yang hadir dalam forum tahunan yang berlangsung selama lima hari ini. Ketua Penyelenggara Klaus Schwab dalam sambutan pembukaannya menyerukan, pemimpin pemerintah dan perusahaan bersatu di sini untuk membuat jalan keluar dari krisis keuangan global.

Sedikitnya 40 kepala negara, antara lain PM China Wen Jiabao, PM Inggris Gordon Brown, Kanselir Jerman Angela Merkel, PM Jepang Taro Aso, PM Rusia Vladimir Putin, dan Presiden Komisi Uni Eropa Jose Manuel Barroso hadir di kawasan wisata musim dingin itu. Presiden Amerika Serikat Barack Obama tidak hadir karena sibuk dengan masalah dalam negeri.

Solusi mengatasi krisis ekonomi dunia menjadi sebuah keharusan karena ancaman krisis terus bermunculan. Ekonom Stephen Roach memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2009 hanya 2,5 persen. Ekonomi dunia digambarkan sudah ”mendekati resesi”.

Pertumbuhan ekonomi China yang diharapkan bisa menjadi harapan agar pertumbuhan ekonomi dunia tidak terjebak resesi ternyata juga tidak lepas dari krisis. Pemerintah China mengatakan, pertumbuhan ekonomi China tahun 2009 bisa mencapai 8 persen, turun dari sebelumnya selalu tumbuh dengan dua digit. Namun, pihak Dana Moneter Internasional mengatakan, mereka mungkin harus merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi China dari 9 persen yang dibuat pada Oktober lalu menjadi hanya 5 persen.

Pesimistis pemimpin perusahaan ini juga terus meningkat hanya dalam beberapa bulan ini. Pada September lalu, hanya 48 persen dari pemimpin perusahaan yang mengaku krisis perbankan akan berdampak buruk pada usaha mereka. Dalam sebuah interviu pada Desember lalu, 67 persen dari pemimpin perusahaan itu mengaku bakal dihantam krisis.

Perkiraan angka PHK ini menunjukkan PHK global tahun 2009 akan meningkat melampui angka tahun 2007, dengan rentang 18 juta hingga 30 juta pekerja. Angka ini akan meningkat lebih dari 50 juta pekerja jika situasi ekonomi global terus merosot. (Reuters/AFP/Kompas)

 

TRANSAKSI SAHAM BEI KIAN SUSUT

Nilai transaksi di bursa saham Indonesia kemarin kembali turun menjadi Rp745,6 miliar, mendekati rata-rata perdagangan pada 2003 yang tercatat sebesar Rp518,3 miliar.

Sejak awal tahun ini hingga kemarin, nilai rata-rata transaksi saham di BEI mencapai Rp1,73 triliun, mendekati kondisi pada 2004-2005. Namun, penurunan nilai transaksi ke posisi Rp744,94 miliar merupakan yang terendah sejak awal 2009.

Presdir PT Danareksa Sekuritas Andy Purwohardono mengatakan penurunan nilai transaksi itu terjadi karena berbagai faktor, salah satunya adalah banyak pemodal yang rugi dan tersangkut pada transaksi repurchase agreement (repo).

“Banyak broker juga yang mengerem pemberian fasilitas margin kepada nasabahnya,” tuturnya kemarin.

Selain itu, ujar Andy, banyak nasabah asing menghadapi masalah dari krisis global, sehingga banyak yang melepas portofolionya.

Dirut BEI Erry Firmansyah menjelaskan penurunan nilai transaksi merupakan dampak da-ri ketatnya likuiditas global. “Pasar kita kena yang terakhir. Selain karena kredit bank yang mengecil, banyak dana nasabah yang tersangkut pada transaksi repo, dan sebagian pemodal masih menahan diri.”

Namun, di balik itu semua, valuasi saham di Indonesia tergolong murah, sehingga membuka peluang bagi pemodal untuk membeli saham pada harga murah dan tetap memerhatikan risiko. “Situasi ini seperti kembali pada 2004.”

BEI, menurut Erry, telah memprediksi adanya potensi penurunan nilai transaksi saham, sehingga target nilai rata-rata transaksi harian tahun ini hanya Rp2,75 triliun. Angka ini jauh di bawah kondisi tahun lalu sebesar Rp4,4 triliun per hari.

Managing Director PT JP Morgan Securities Indonesia Rizal B. Prasetijo belum lama ini mengatakan price to earning ratio (P/E) pasar saham di Indonesia pada Mei 2008 masih mencapai 13,1 kali, sedangkan saat ini turun ke posisi 8 kali.

Nilai tukar rupiah dalam enam pekan terakhir ini terus melemah seiring dengan spekulasi aksi borong dolar AS dari korporasi untuk pembayaran impor dan pinjaman luar negeri yang jatuh jatuh tempo pada bulan ini. (arif. gunawan@bisnis.co.id/wisnu.wijaya@ bisnis.co.id)

‘JANUARY EFFECT’ SAHAM HANYA MIMPI?

Memasuki 2009, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (5/1) berpotensi menguat. Sektor perbankan pun diramal menjadi motor penggerak indeks tahun ini. Investor saham juga bisa memantau January Effect.

Analis pasar modal Yanuar Rizky mengatakan, indeks saham pada perdagangan di hari pertama 2009 diperkirakan bergerak dalam kisaran terbatas, plus minus 50 dari penutupan akhir tahun 2008 di level 1.355.

 “Pergerakannya tidak jauh, plus-minus 50. Hari Senin bisa jadi naik, Selasa turun, kemudian sampai Kamis akan turun terus. Atau indeks diguyur turun mulai besok. Tapi, menurut saya indeks saham kemungkinan akan naik dulu, setelah itu profit taking,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.

Sementara itu bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup rally dipicu aksi beli saham-saham yang valuasinya murah. Bahkan, pada perdagangan pertama 2009, Dow Jones dan S&P ditutup di level terbaik sejak November.

Beberapa sentimen positif datang dari rencana The Fed yang pada pertengahan 2009 akan membeli lebih banyak lagi mortgage-backed securities senilai US$ 500 miliar dan paket bantuan senilai US$ 6 miliar yang dikucurkan pada GMAC.

Investor seakan mengabaikan sentimen negatif dari memburuknya indeks manufaktur yang anjlok ke level 32,4, terendah dalam 28 tahun terakhir. Pasalnya, data negatif ini sudah diekspektasikan pelaku pasar sebelumnya.

Menurut Yanuar, penguatan bursa AS merupakan window dressing yang dilakukan The Fed, mengingat bank sentral tersebut banyak memegang portofolio. Ia pun menilai kenaikan bursa Wall Street tidak ada hubungannya dengan kondisi pasar Indonesia.

Hal ini mengingat adanya perbedaan dalam neraca The Fed. “Di AS, struktur neracanya tidak saling terkait sehingga penguatan di AS tidak berkorelasi dengan IHSG,” papar Yanuar yang juga analis Independen-Aspirasi Indonesia Research Institute (AIR Inti).

Yanuar menjelaskan, di AS, ada perbedaan perlakuan antara saham-saham domestik dan surat internasional. Saham dan surat-surat berharga di pasar domestik dikategorikan sebagai aset, sehingga setelah bailout, saham ataupun surat berharga itu dikelola (portfolio management).

Sedangkan surat berharga internasional dalam posisi siap dijual. “Ini berarti, bila bursa AS naik, yang didukung manajemen portofolio, tidak berkorelasi khusus dengan surat internasional,” ujarnya.

Di sisi lain, indikasi terjadinya January Effect di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu kecenderungan meningkatnya pasar saham antara 31 Desember hingga akhir pekan pertama Januari 2009 tahun ini cenderung tipis.

Menurutnya, January Effect akan terjadi jika ada peningkatan dalam portofolio manajemen. Sedangkan saat ini, investor yang masih dominan di pasar dan banyak melakukan pengelolaan portofolio adalah pihak asing, yang justru cenderung melakukan penjualan. “Jadi kemungkinannya sangat tipis akan terjadi January Effect,” tambahnya.

Adapun pelantikan Barack Obama sebagai presiden AS pada 20 Januari mendatang diperkirakan membawa sentimen khusus terkait ekspektasi realisasi rencana paket stimulus kebijakan AS.

Hal ini pun diyakini memicu minat asing membeli saham, berlanjut pada terkereknya IHSG. “Sebelum 20 Januari, akan ada kenaikan sedikit dari asing,” ulasnya. Namun, setelah tanggal 20, investor diperkirakan melakukan profit taking. Itu dilakukan untuk mencari buyer baru.

Yanuar pun menyarankan pelaku pasar untuk tidak menganggap penguatan indeks sebelum tanggal 20 Januari sebagai January Effect. “Asing akan mengangkat dulu harga saham baru profit taking,” ucapnya. (Inilah)

 

AWAL 2009, INVESTOR ‘WAIT AND SEE’

Mengawali perdagangan di tahun baru seperti layaknya petinju baru bertarung di ronde pertama, yaitu baru melakukan penjajakan seraya melihat berbagai kemungkinan dan kesempatan yang bisa dimanfaatkan.

Begitu juga dengan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin ini (5/1), yang diperkirakan tidak akan terjadi transaksi yang gegap gempita menyambut perdagangan di tahun baru.

Kalau pun ada minat investor untuk memburu saham, kemungkinan besar adalah saham-saham unggulan yang valuasinya rendah.

Sementara sektor komoditas, kemungkinan akan kembali menjadi primadona di lantai bursa seiring mulai menguatnya harga minyak mentah dunia di kisaran US$ 46 per barel menyusul serangan brutal Israel ke Palestina.

Sebagian investor diperkirakan juga akan memanfaatkan sentien positif yang dikirimkan dari Wall Street, yang pada awal perdagangan tahun ini mengalami lonjakan. Pada perdagangan pertama 2009, indeks Dow Jones melompat 258,30 poin (2,94%) ke level 9.034,69, indeks S&P 500 menguat 28,55 poin (3,16%) di posisi 931,8 dan indeks Nasdaq melonjak ke 1.632,21.

Kebanyakan investor di Wall Street optimistis menyambut pemerintahan Barack Obama yang akan dilantik pada 20 Januari mendatang.

Selain itu, langkah penyelamatan pemerintah AS terhadap dua raksasa otomotif AS, General Motors dan Chrysler LLC, juga melegakan pasar sehingga kecemasan bakal ambruknya sektor otomotif dapat diredam.

Paa akhir 2008 hingga awal 2009, pemerintah AS telah mengucurkan dana pinjaman dan talangan tahap pertama bagi GM, Chrysler dan juga lembaga keuangan anak perusahaan GM, GMAC. Dengan pengucuran itu diharapkan keresahan di sektor otomotif dan kredit dapat teratasi, sehingga memacu kembali kepercayaan konsumen yang sudah ambruk. (Inilah)

 

REVIEW IHSG: KORBAN HARGA MINYAK

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tipis karena turunnya sejumlah saham energi akibat sentimen turunnya harga minyak dunia di level US$ 36 per barel. Saham PGN menjadi korban terbesar dari sentimen penurunan harga minyak. 

Pada penutupan perdagangan saham I, Jumat (19/12/2008) IHSG turun 3,479 poin (0,26%) menjadi 1.348,285. Perdagangan saham hari ini mencatat transaksi sebanyak 66.480 kali, dengan volume 3,593 miliar unit saham, senilai Rp 1,969 triliun. Sebanyak 83 saham naik, 59 saham turun dan 58 saham stagnan.

PGAS (-9,09%) yang nampaknya terkena dampak terbesar penurunan harga minyak ke level US$ 36, karena dengan level harga ini, tingkat keekonomisan gas menjadi hampir sama dengan minyak yang memicu potensi penurunan harga gas dalam negeri. Sampai penutupan sesi kedua, 83 saham ditutup menguat, 59 saham melemah, dan 58 saham stagnan. (Detik)