Apa yang dikhawatirkan pelaku perbankan sudah terjadi di depan mata. Permasalahan Bank Century disebut-sebut sebagai awal gejala krisis likuiditas. Apakah benar?
“Ini yang saya khawatirkan sejak muncul gosip Bank Century kalah kliring,” ujar Kepala Ekonom Bank BNI A Tony Prasetiantono, saat dihubungi okezone, di Jakarta, Jumat (21/11/2008).
Menurutnya, sikap pemerintah yang hingga kini belum menerapkan blanket guarantee sangat telat.
“Dengan jaminan hanya Rp2 miliar, logikanya nasabah akan melakukan migrasi dana dari bank-bank kecil ke bank-bank besar. Ini berisiko sistemik dan bisa saja terjadi efek domino ke bank-bank lain yang lebih besar,” ujarnya.
Sejauh ini, tampaknya ada anggapan bahwa risiko sistemik hanya terjadi jika yang gagal bayar adalah bank besar.
“Saya pikir persepsi ini keliru. Bank kecil jika default juga bisa memicu kejatuhan bank lain,” tutur Tony.
Dia menyarankan, pemerintah harus cepat melakukan beberapa tindakan. Antara lain, melakukan blankeet guarantee dan meminjam dana dari IMF dan Bank Dunia masing-masing USD5 miliar. Agar cadangan devisa kembali ke USD60 miliar, yang akan membantu confidence rupiah agar tidak terperosok lebih dalam.
“Ini harus cepat dan tidak punya waktu lagi untuk mengkaji. Now, time is running out. No privilege anymore to think “mengkaji” dulu kebijakan tersebut supaya market tidak makin nervous,” pungkasnya. (Okezone)
DIarsipkan di bawah: @General News | Ditandai: bank century, bcic

au’ah ggeeellllaaaaapp,,,,,,,,,,,,,
kasus ini merupakan kasus yg sangat memalukan bagi Negara kita…Apakah memang sistem pengawasan perbankan Indonesia lemah atau Ini ada hubungannya dengan dunia Perpolitikan Indonesia..??? Disinilah saatnya kita menunggu peran lembaga2 pengawasan keuangan yang Indenpenden untuk menyelidiki kemana hilangnya dana yg terbilang cukup besar ini…ataukah hanya berdiam dri sehingga kasus ini dengan sendirionya akan menghilang oleh issu2 atau persoalan2 negara yg lain yang akan muncul setiap saat…??? Atau apakah hanya akan menunggu komentar2 pakar ekonomi yg ada di indonesia tanpa ada realisasi tindakan terhadap kasus ini???
yang jelas ada orang dalam yang ikut bermain. POLITIK sering diprjualbelikan, emang saham??!
Akhirnya kembali pada pertanyaan kita sebagai investor, dengan kejadian ini maka yang paling aman naruh dan mutarkan uang di mana ya ?
Disini gak aman, disitu gak aman, jadinya yang aman di mana dong ?
Dengan munculnya pertanyaan-2 dasar itu dalam benak kita berarti telah terjadi pergeseran posisi pertimbangan keuntungan investasi dari nomor 1 menjadi nomor 2 atau 3, karena kita akhirnya sadar juga bahwa untuk apa harapan untung besar kalau akhirnya malah jadi buntung besar dengan alasan apapun, kalah kliring kek, lari ke LN kek dan kek-2 lainnya.
Menjadi kaya saja percuma kalau tidak pintar. Hasilnya dibodohi terus. Yang terbaik justru menjadi pintar sebelum kaya. Pintar naruh uang, Pintar mutarkan uang dan menjadi kaya.