Langgeng atau tidaknya kepemilikan asing di saham domestik terkait erat dengan struktur ekonomi AS. Jika AS jor-joran mengucurkan bailout untuk pemulihan krisis, investor AS tidak segan-segan menarik dananya dari Indonesia.
Begitu juga dengan kepemilikan Soros di saham PT Bumi Resourses (BUMI). Lama tidaknya usia investasi sangat ditentukan oleh seberapa besar bailout yang dibutuhkan Soros.
Pasalnya, kata Yanuar Rizky, analis Aspirasi Indonesia Research Institute (AIR Inti), dalam sejarahnya, Soros tidak pernah menahan (hold) saham tertentu dalam waktu lama.
Masuknya Soros melambungkan saham BUMI dengan cepat, tapi ketika mengakhiri kepemilikannya di saham sejuta umat tersebut maka saham produsen batubara itu akan kembali terjerumus ke harga terendah.
Apa pasal? Soros adalah penganut aliran cash flow. “Pokoknya kalau cash flow-nya masuk maka dia masuk di saham tertentu seperti halnya juga BUMI,” papar Yanuar kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.
Pada Selasa (25/11) Soros dikabarkan ikut membeli saham BUMI melalui Arch Coal Inc. Ia telah membeli 2,9 juta lembar saham Arch Coal Inc melalui Soros Fund Management LLC.
Pembelian saham BUMI ini telah menyebabkan saham tersebut menguat Rp 140 per lembar dan kini saham perusahaan tambang milik keluarga Bakrie itu sudah melampaui Rp 1.000 per lembar.
Berbeda dengan Soros, investor asing lainnya Warren Buffet memiliki tipe kosmetik. Ia akan menahan saham (hold), dan ketika harganya jatuh, akan mengambil alih (take over). Saham yang dimilikinya akan dibiarkan jatuh dan setelah itu dipermak alias dipoles. Kemudian setelah harganya naik maka ia akan menjual saham tersebut.
Tapi, dengan kalahnya Partai Republik dalam pemilu Amerika Serikat, muncul sentimen negatif bagi Warren. Terlihat dari tidak melakukan aksi beli terhadap saham-saham lokal sebagaimana yang dilakukan Soros. ”Jadi, kalau saya melihat kenapa BUMI diambil sama Soros ada juga kaitannya dengan politik di sana (AS),” papar Yanuar.
Karena itu, masuknya Soros di BUMI merupakan tindakan sementara. Jika dilihat dari struktur hedging-nya, sebetulnya kepemilikannya itu hanya pindah dari have fund yang satu ke yang lain. “Ini mengikuti struktur kemenangan pilpres Amerika, karena Soros mendukung Demokrat,” katanya.
Selain itu, jika melihat keputusan kongres pada saat bailout disetujui, pengembaliannya harus tepat sasaran dan cepat. Pasalnya, dana itu merupakan aset dari pajak rakyat Amerika. ”Sebetulnya, itu juga yang akhirnya menimpa BUMI Resouses,” kata Yanuar. Ia menuturkan sebenarnya jika tidak ada ramai-ramai bailout repo BUMI akan berjalan lancar hingga Maret 2009. Tapi, keputusan kongres itu memancing aksi jual sehingga memicu persoalan gagal bayar kelompok Bakrie.
Ketika ditanya seberapa lama kepemilikan Soros di BUMI, Yanuar mengatakan bisa dalam jangka pendek dan menengah. Tapi yang jelas, Yanuar menegaskan, pada suatu hari Soros akan keluar dari BUMI.
Untuk keluar dari BUMI Soros berkepentingan memancing harga saham BUMI menjadi naik. ”Kalau investor terpancing lagi ya untunglah dia dan jatuhlah harga BUMI,” katanya.
Dalam hitungan Yanuar, sampai akhir tahun investor asing akan melepas kembali saham mereka sekitar 15%. Pasalnya, dalam satu bulan terakhir setelah bursa disuspensi, pihak asing sudah melepas 4% saham mereka di Bursa Efek Indonesia (BEI). ”Jadi, dalam dua bulan ini sekitar 10%-an lagi,” katanya.
Sebelum krisis, kepemilihan asing terhadap saham lokal sekitar 70%, dan pada saat ini posisinya tinggal 54%. Paling banter, kata Yanuar, investor AS masih akan menyisakan kepemilikan saham mereka di Indonesia sekitar 30%.
Tapi, Yanuar sendiri tidak bisa memastikan angka tepatnya. Yang jelas, lanjut Yanuar, mereka akan menjual terus menerus saham mereka. ”Tapi kalau sampai zero saya kira nggak. Karena dia juga butuh untuk menggoreng saham di masa yang akan datang,” imbuhnya. (Inilah)
DIarsipkan di bawah: @General News | Ditandai: george soros beli bumi, saham bumi
