Memasuki 2009, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (5/1) berpotensi menguat. Sektor perbankan pun diramal menjadi motor penggerak indeks tahun ini. Investor saham juga bisa memantau January Effect.
Analis pasar modal Yanuar Rizky mengatakan, indeks saham pada perdagangan di hari pertama 2009 diperkirakan bergerak dalam kisaran terbatas, plus minus 50 dari penutupan akhir tahun 2008 di level 1.355.
“Pergerakannya tidak jauh, plus-minus 50. Hari Senin bisa jadi naik, Selasa turun, kemudian sampai Kamis akan turun terus. Atau indeks diguyur turun mulai besok. Tapi, menurut saya indeks saham kemungkinan akan naik dulu, setelah itu profit taking,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, kemarin.
Sementara itu bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup rally dipicu aksi beli saham-saham yang valuasinya murah. Bahkan, pada perdagangan pertama 2009, Dow Jones dan S&P ditutup di level terbaik sejak November.
Beberapa sentimen positif datang dari rencana The Fed yang pada pertengahan 2009 akan membeli lebih banyak lagi mortgage-backed securities senilai US$ 500 miliar dan paket bantuan senilai US$ 6 miliar yang dikucurkan pada GMAC.
Investor seakan mengabaikan sentimen negatif dari memburuknya indeks manufaktur yang anjlok ke level 32,4, terendah dalam 28 tahun terakhir. Pasalnya, data negatif ini sudah diekspektasikan pelaku pasar sebelumnya.
Menurut Yanuar, penguatan bursa AS merupakan window dressing yang dilakukan The Fed, mengingat bank sentral tersebut banyak memegang portofolio. Ia pun menilai kenaikan bursa Wall Street tidak ada hubungannya dengan kondisi pasar Indonesia.
Hal ini mengingat adanya perbedaan dalam neraca The Fed. “Di AS, struktur neracanya tidak saling terkait sehingga penguatan di AS tidak berkorelasi dengan IHSG,” papar Yanuar yang juga analis Independen-Aspirasi Indonesia Research Institute (AIR Inti).
Yanuar menjelaskan, di AS, ada perbedaan perlakuan antara saham-saham domestik dan surat internasional. Saham dan surat-surat berharga di pasar domestik dikategorikan sebagai aset, sehingga setelah bailout, saham ataupun surat berharga itu dikelola (portfolio management).
Sedangkan surat berharga internasional dalam posisi siap dijual. “Ini berarti, bila bursa AS naik, yang didukung manajemen portofolio, tidak berkorelasi khusus dengan surat internasional,” ujarnya.
Di sisi lain, indikasi terjadinya January Effect di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu kecenderungan meningkatnya pasar saham antara 31 Desember hingga akhir pekan pertama Januari 2009 tahun ini cenderung tipis.
Menurutnya, January Effect akan terjadi jika ada peningkatan dalam portofolio manajemen. Sedangkan saat ini, investor yang masih dominan di pasar dan banyak melakukan pengelolaan portofolio adalah pihak asing, yang justru cenderung melakukan penjualan. “Jadi kemungkinannya sangat tipis akan terjadi January Effect,” tambahnya.
Adapun pelantikan Barack Obama sebagai presiden AS pada 20 Januari mendatang diperkirakan membawa sentimen khusus terkait ekspektasi realisasi rencana paket stimulus kebijakan AS.
Hal ini pun diyakini memicu minat asing membeli saham, berlanjut pada terkereknya IHSG. “Sebelum 20 Januari, akan ada kenaikan sedikit dari asing,” ulasnya. Namun, setelah tanggal 20, investor diperkirakan melakukan profit taking. Itu dilakukan untuk mencari buyer baru.
Yanuar pun menyarankan pelaku pasar untuk tidak menganggap penguatan indeks sebelum tanggal 20 Januari sebagai January Effect. “Asing akan mengangkat dulu harga saham baru profit taking,” ucapnya. (Inilah)
DIarsipkan di bawah: @General News
